Kamis, 30 Desember 2010

Sejarah Agama Buddha Masa Klasik

Masuknya agama Buddha ke Indonesia


Nenek moyang bangsa Indonesia pada jaman dahulu menyembah roh leluhur untuk mendekatkan diri pada Tuhan atau yang disebut dengan hyang. Sistem kepercayaan ini disebut dinamisme (bhs.latin; dinam = benda dan isme = kepercayaan) yaitu kepercayaan terhadap benda-benda besar, dan animisme (bhs. Latin; anima = roh dan isme=kepercayaan) yaitu kepercayaan terhadap makhluk halus dan roh.
Agama yang diyakini masuk ke bumi Nusantara pertama kali melalui perdagangan dan kebudayaan antara India dengan Indonesia adalah agama Hindu-Buddha. Agama Hindu diperkirakan masuk pada awal masehi, sedangkan agama Buddha masuk dengan ditandai:
  1. Raja Asoka mengirim Bhikkhu Sona dan Uttara ke Suvarnabhumi (Myanmar), setelah Pasamuan Agung ke tiga di Pataliputta (268-233 S.M), yang kemungkinan menyebar sampai ke Malaya dan Sumatera;
  2. Datangnya pengembara India bernama Aji Saka Tritustha ke tanah Jawa pada abad ke 1 Masehi, tepatnya awal tahun kalender Saka tahun 78 Masehi;
  3. Agama Buddha Hinayana (Theravada) di bawa oleh Gunawarman putra raja Kashmir pada abad ke 4 (423/424 M) di kerajaan Ho-ling-Jawa;
  4. Agama Buddha Mahayana berkembang pada abad 8 Masehi kemungkinan di bawah pengaruh dinasti Pala di India.
Masuknya agama Buddha ke Indonesia bersumber pada pendeta Buddha dari Cina bernama Fa Hsien dan I-Tsing. Fa Hsien yang singgah ke Ye-po-ti (Jawadwipa) + 5 bulan pada Desember tahun 412 M sampai bulan Mei tahun 413 M, menjelaskan agama Hindu berkembang sebaliknya agama Buddha kurang berkembang. I-Tsing singgah di Sriwijaya dua kali yaitu; kunjungan pertama selama enam bulan (671 M), dan kunjungan kedua selama empat tahun (685-689 M). Ia menjelaskan bahwa di Sriwijaya berkembang aliran Hinayana/Theravada, sedangkan di Melayu berkembang Mahayana dan terdapat guru agama asal China bernama Hwui Ning yang datang ke Kerajaan Kaling (Ho-Ling) di Jawa (664-665 M).

Aliran Buddha Mahayana berkembang dengan dibawa Dharmapala pada abad 7-8 M. Aliran ini mengalami perkembangan pesat di Jawa dan Sumatera terutama Mahayana Tantrayana (Vajrayana) karena dalam aliran ini memperbolehkan Buddha dijadikan sebagai objek pemujaan dan para raja penganut Buddha setelah meninggal diakui sebagai Bodhisatva.

Penyiaran agama Buddha pada jaman Kerajaan


Masuknya agama Hindu-Buddha tidak hanya mempengaruhi kebudayaan tetapi juga sistem pemerintahan yang ada di Nusantara, yaitu dengan adanya pemerintahan berbentuk kerajaan. Kerajaan-kerajaan bercirikan Hindu-Buddha sebagai pengaruh masuknya India ke Nusantara yaitu :


a.Kaling (Ho–Ling)

Kerajaan (Ho-Ling) kemungkinan ada pada awal abad ke 5, yang pernah dipimpin oleh Ratu Si-Mo atau Sima yaitu ratu tangan besi karena memerintah dengan keras. Ia memeluk agama Buddha setelah kedatangan pendeta Buddha Gunawarman pada tahun 424/423 Masehi. Kerajaan ini diperkirakan terletak di wilayah Semarang, antara Pekalongan dan Plawangan, atau mungkin di Purwodadi, Grobogan.

Ho-ling merupakan pusat Buddhisme pertama dan sebagai tempat kelahiran pendeta Buddha berdarah Jawa bernama Jnanabhadra. Ia menjadi guru dengan membantu para bhiksu China seperti Hwui Ning yang datang ke Ho-ling (664-665 M), untuk menterjemahkan teks-teks Hinayana ke dalam bahasa Cina.Berdasarkan naskah yang diterjemahkan Hwui Ning yang berbeda dengan naskah Mahayana, disimpulkan bahwa agama Buddha yang dianut oleh mayoritas masyarakat pada waktu itu bukan Mahayana meskipun menggunakan bahasa Sanskerta. Penyiaran agama Buddha di Holing mengalami kemunduran pada abad ke-7 dengan adanya pendirian candi-candi Siwa seperti candi Dieng dan Gedong Songo.

b.Kerajaan Sriwijaya


Sriwijaya yang berarti “Kemenangan yang menjanjikan” merupakan kerajaan Nasional pertama di Indonesia. Berdiri + pada abad ke- 5 M – 1377 di Palembang Sumatera Selatan, tepatnya di sepanjang sungai Musi di antara Bukit Seguntang dan Sabokingking. Di Sriwijaya awalnya berkembang agama Buddha aliran Hinayana tetapi pada abad 7 M mulai berkembang Mahayana yang mengalami jaman keemasan. Bukti bahwa agama Buddha berkembang di Sriwijaya adalah :

Sebagai pusat kegiatan agama Buddha Mahayana dan Tantra dengan guru besar bernama Sakyakirti dan Dharmapala, dan sebagai mercusuar agama Buddha di wilayah Asia Tenggara;

  1. Sebagai tempat singgah pendeta Cina untuk belajar bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa Kuno (Kawi) sebelum belajar agama Buddha di India;
  2. I-Tsing menterjemahkan kitab suci Tipitaka ke dalam bahasa Cina, pada kunjungan keduanya (685-689 M);
  3. Dalam prasasti Nakhon Si Thammarat (775 M) di Viengsa Thailand Selatan, dijelaskan raja Sriwijaya Dharmasetu membangun tiga stupa Buddha, Bodhisattva Avalokitesvara dan Vajrapani;
  4. Atissa Dipankara belajar filosofi dan logika Agama Buddha Mahayana selama 12 tahun (1011-1023) kepada Dharmakirti;
  5. Raja Dewapala dari dinasti Pala-India (856-860 M) menghadiahkan beberapa desa untuk pertapaan di vihara di Nalanda, yang dibangun Balaputra raja Sriwijaya;
  6. Peninggalan Sriwijaya adalah candi candi Muara Takus (abad 11-13 Masehi), dan Arca Dyani Buddha.
Selain peninggalan kerajaan Sriwijaya, di Sumatera terdapat peninggalan Kerajaan Melayu, dan Pannai berupa Candi Muaro Jambi dan Biaro Padang Lawas.


Kemunduran kerajaan Sriwijaya terjadi pada abad 9 dan mengalami puncaknya pada abad ke-14. Keruntuhan tersebut mempengaruhi mundurnya agama Buddha dengan berbagai sebab yaitu :
  1. Penyerangan raja Dharmavangsa dari Dinasti Isyana tahun 988-992 M, dan Rajendra Chola dari Colamandala India pada 1025 M;
  2. Terbentuk dua kekuasaan yaitu Palembang dan Jambi (tahun 1082-1088 M;
  3. Penyerangan raja Hayam Wuruk dari Majapahit tahun 1377 Masehi;
  4. Kerajaan kecil yang memisahkan diri;
  5. Masuknya pengaruh pedagang India Muslim dan Arab Muslim pada abad 12-13;
  6. Datangnya Zheng He (Ceng Ho) seorang muslim dari Cina sehingga raja Prameswara memeluk Islam dengan nama Iskandar Sha.


c.Kerajaan Tarumanegara


Terletak di antara desa Tugu dan Bekasi dengan daerah kekuasaan sungai Citarum dan Selat Sunda. Agama yang berkembang pada kerajaan ini adalah Hindu, namun agama Buddha mulai ada kemungkinan setelah pemerintahan Raja Punawarman dengan adanya sisa kebudayaan Buddha seperti situs candi Jiwa di kompleks percandian Batu Jaya di Karawang-Jawa Barat.


d.Kerajaan Mataram Kuno


Mataram kuno (Hindu-Buddha) terletak di Lembah sungai Progo, Bagelan-Yogyakarta. Berkuasa + tahun 775 - 850 M dengan dua dinasti yaitu Syailendra (agama Buddha Mahayana) di Jawa bagian selatan dan Sanjaya (Hindu-Shiwa) di Jawa bagian utara.


Pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran/Pancapanna dari Sanjaya, agama Buddha mulai berkembang dengan dibangunnya Candi Tara di desa Kalasan. Setelah ia mangkat terjadi perpecahan keagamaan yang meluas pada perpecahan pemerintahan menjadi dua dinasti yaitu Syailendra dan Sanjaya. Agama Buddha Mahayana (Tantrayana) berkembang pada jaman Mataram Kuno dengan peninggalannya berupa; candi Borobudur, Ratu Boko, Sari, Kalasan, Sewu, Pawon, Mendut, Plaosan, Sojiwan, dan lainnya. Candi-candi ini dibangun atas perintah raja wangsa Syailendra yaitu Raja Indra Ganananta (Sangramadhananjaya) dan Samaratungga serta Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya.

Agama Buddha tetap berkembang meskipun diperintah oleh Rakai Pikatan (beragama Hindu). Ia membangun candi Plaosan/kembar sebagai hadiah pernikahannya dengan Pramudyawardani dari dinasti syailendra. Raja terakhir dari keturunan asli Mataram Kuno adalah Raja Wawa kemudian digantikan oleh patih Empu Sindok dari Dinsati Isyana. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke Jawa Timur pada 929 M untuk menghindari letusan Gunung Merapi dan serangan Sriwijaya.

e.Kerajaan Mataram Kuno Dinasti Isyana



Agama Buddha dan Hindu-Siwa yang terpengaruh Tantra hidup berdampingan di Kerajaan Mataram Kuno Dinasti Isyana di Jawa Timur pimpinan Empu Sindok (929 M). Kerukunan tersebut terbukti dengan :

  1. Empu Sindok menikahkan putrinya dengan Lokapala atau Sugatapaksa (sebutan Buddhis);
  2. Empu Sindok (beragama Siwa) memperhatikan agama Buddha; dengan penerjemahan kitab suci Buddhis Mahayana Tantrayana (Jawa), yaitu “Sanghyang Kamahayanan Mantrayana” (berisi ajaran kepada bhiksu yang sedang ditahbis), dan “Sanghyang Kamahayanikan” (berisi ajaran cara mencapai pelepasan). Salah satunya menjelaskan bahwa "Siwa-Buddha” sebagai satu Tuhan.

Mataram kuno Dinasti Isyana berakhir pada tahun 1006 M ketika dipimpin Dharmawangsa, kemudian digantikan Airlangga yang mendirikan kerajaan Kediri.

f.Kerajaan Kahuripan dan Kediri (Daha)


Pada masa kerajaan Kahuripan yang berdiri tahun 1010 M, peninggalan bercirikan agama Buddha tidak menonjol. Sedangkan kerajaan Kediri sebagai penerus Kahuripan, agama Buddha tetap berkembang dan diakui meskipun bukan agama utama. Bukti perkembangan tersebut yaitu :

  1. Dibangun biara Buddha bernama Srivijayasrama sebagai hadiah untuk istri Airlangga dari Sriwijaya yang beragama Buddha;
  2. Dijadikannya agama Buddha sebagai dasar perundang-undangan, dengan ditunjukknya pejabat pembantu pengadilan yaitu; Adidarma Dyaksa Kasiwan (mewakili agama Siwa) dan Adidarma Dyaksa Kabudan (mewakili agama Buddha) dengan nama Sang Maharsi.

Kertajaya penganut Tantra Kiri (Tantra ekstrim) adalah raja terakhir Kediri sebelum Ken Arok menyerangnya (1222 M). Ken arok mendirikan kerajaan Singasari sementara Kediri berdiri sebagai kerajaan kecil dengan raja Jaya Katwang.


g.Kerajaan Singasari


Didirikan Ken Arok dengan dinasti Rajasa (1222 M) di Kutaraja (Singasari). Raja Singasari memerintah dengan sangat religius melalui agama Siwa dan Buddha Tantrayana. Ajaran Tantrayana berkembang baik, sejak pemerintahan Ken Arok sampai Wisnuwardhana dan mencapai puncaknya pada masa Kertanegara.


Penghormatan terhadap raja-raja yang meninggal sebagai Dewa dan Bodhisatva sangatlah tinggi yaitu :

  1. Ken Dedes dihormati sebagai Prajnaparamitta;Raja Anusapati dihormati sebagai Siwa di candi Kidal;
  2. Raja Wishnuwardhana dihormati sebagai Buddha di Mleri, makam Tumpang atau candi Jago sebagai Bodhisattva Amoghapasa;
  3. Raja Kertanegara (Bhattara Shivabuddha) didewakan di candi Singosari sebagai Patung Aksobhya, candi Jawi sebagai Siwa-Buddha sekaligus simbol politik damai Kertanegara bagi Nusantara dan di makam Segala sebagai Vairocana;
  4. Puteri Gayatri (Rajapadni) yang menjadi Bhiksuni dihormati sebagai Prajnaparamita.

Peninggalan bercirikan Buddha dan Siwa-Buddha di Singasari adalah; candi Kidal, Jago, Singosari, Jawi, dan Tikus, yang berfungsi sebagai makam serta untuk mendewakan raja yang meninggal.


h.Kerajaan Majapahit


Didirikan menantu Kertanegara raja Singasari, yaitu Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana pada tahun 1294 M di desa Tarik, sungai Brantas dengan ibukotanya Trowulan. Pada jaman ini terjadi sinkretisme antara Hindu-Siwa, Hindu-Wisnu dan agama Buddha. Dalam kitab “Kunjarakarna” disebutkan bahwa tiada pengikut Siwa maupun Buddha mendapat kelepasan jika ia memisahkan Siwa-Buddha.


Dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular diceritakan bahwa para dewata mengingatkan Kalarudra (tokoh agama Hindu) yang hendak membunuh Sutasoma (titisan Buddha), bahwa Buddha dan Siwa tidak bisa dibedakan. Dalam kitab tersebut terdapat kalimat “Ciwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika Tanhang Dharma Mandrawa”, kata "Bhinneka Tunggal Ika" dijadikan lambang Negara Republik Indonesia sebagai moto toleransi dan persatuan.


Toleransi antara Hindu-Siwa dan Buddha Kasogatan terbukti dengan biarawan Hindu dan Buddha yang tinggal di wilayah istana Trowulan serta ditunjuknya pejabat tinggi keagamaan yaitu :
  1. Dharmadhyaksa Ring Kasaiwan (mengurusi agama Syiwa)
  2. Dharmadhyaksa Ring Kasogatan (mengurusi agama Buddha Kasogatan)
  3. Dharma Lpas Karsyan (pejabat pusat mantra ber-haji yang mengurusi agama lain)

Kerajaan dan agama Hindu-Buddha di Majapahit dan kerajaan lain di Jawa Timur, mengalami kemunduran karena beberapa sebab yaitu :
  1. Datangnya Zheng He (Cheng Ho) dari Cina yang beragama Islam pada 1406 M;
  2. Munculnya keyakinan kuno Penguasa Pegunungan;
  3. Raja Kertawijaya menjadi saksi berkembangnya Islam pada tahun 1447 M oleh pedagang Arab dan Cina IslamKertabhumi menikah dengan putri Cina yang beragama Islam, kemudian memiliki anak bernama Raden Patah (Cek Kok Po) pendiri kesultanan Demak pada tahun 1478;
  4. Girindravardhana Dyah Rana Wijaya pada 1474 M mengalahkan Kertabhumi/Brawijaya V dan ia menjadi raja Majapahit terakhir pada 1478 M;
  5. Pada tahun 1527 M kerajaan Daha/Kediri (Girindravardhana) ditumpas Sultan Trenggana dari kesultanan Demak;
  6. Kerajaan Blambangan pada tahun 1597 M dihancurkan Pasuruan karena putri Blambangan menolak diislamkan suaminya (Pangeran Pasuruan);
  7. Sultan Trenggana mengislamkan kerajaan taklukkannya, pendeta Buddha dan para bangsawan;
  8. Penyebaran agama Islam oleh para Sufi yang bermukim di Indo-Melayu pada abad 15 dan 16 M.
Dengan berakhirnya kerajaan Hindu-Buddha di Majapahit (1478 M), kerajaan Daha/Kediri (1527 M) dan kerajaan Blambangan (1597 M), berakhirlah juga penyiaran agama Hindu-Buddha digantikan kerajaan dan agama Islam. Sementara itu masyarakat yang menyelamatkan diri dan menolak diislamkan, mengungsi ke dataran tinggi di gunung berapi di Jawa Timur, Blambangan dan Bali.


disarikan dari berbagai sumber (postingan awal yang akan mengalami perubahan)

Selasa, 09 Februari 2010

Kewajiban umat Buddha dalam kehidupan

Aplikasi  Sigalovada Sutta dalam melaksanakan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari

Pengertian Hak Dan Kewajiban

Kehidupan akan lebih harmonis jika manusia mengerti dan melaksanakan hak maupun kewajibannya. Hak merupakan kewenangan untuk bertindak, kewenangan untuk mendapatkan sesuatu yang seharusnya diperoleh. Sedangkan kewajiban merupakan tindakan untuk memenuhi dan melaksanakan sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya. Hak dan kewajiban berlaku dalam kehidupan baik sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota sekolah, masyarakat dan sebagai Warga Negara.
Antara hak dan kewajiban saling berhubungan, seseorang belum tentu mendapatkan haknya jika tidak melaksanakan kewajibannya dengan baik. Demikian pula orang belum tentu melaksanakan kewajibannya jika haknya tidak dipenuhi. Tetapi lebih baik jika terlebih dahulu melaksanakan kewajiban sebelum mendapatkan yang menjadi haknya. Hak dan kewajiban disebut juga dengan kewajiban timbal balik yang akan terlaksana dengan baik jika berlangsung dua arah.
Kewajiban timbal balik dikhotbahkan oleh Buddha dalam Sigalovada Sutta kepada pemuda Sigala ketika beliau ber-pindapata. Khotbah ini diberikan ketika pagi-pagi sekali Sigala dengan rambut dan pakaian basah, menyembah ke berbagai arah bumi dan langit untuk melaksanakan pesan ayahnya sebelum meninggal. Sigala merupakan pemuda yang tidak pernah mengunjungi Buddha. Karena itu, sebelum meninggal ayahnya berpesan agar Sigala menyembah arah bumi dan langit, dengan harapan agar Buddha melihat tindakan tersebut dan menunjukkan jalan benar kepada putranya.
Kepada Sigala, Buddha menjelaskan bahwa penghormatan terhadap enam arah dilakukan dengan memandang enam arah sebagai pelaksanaan kewajiban timbal balik kepada:
a) Ayah dan ibu sebagai arah Timur;
b) Guru sebagai arah Selatan;
c) Istri dan anak sebagai arah Barat;
d) Sahabat sebagai arah Utara;
e) Pelayan sebagai arah bawah, dan
f) Para Pertapa sebagai arah atas
Setelah mendengarkan khotbah Buddha, Sigala memuji kemudian menyatakan berlindung kepada Buddha dan meminta agar diterima sebagai murid Buddha (upasaka). Khotbah inilah yang dijadikan pedoman umat Buddha dalam melaksanakan kewajiban timbal balik terhadap orang-orang yang berhubungan dengan kehidupannya.

Hak dan Kewajiban dalam Keluarga

Salah satu kewajiban yang harus diperoleh dan dilaksanakan adalah hak dan kewajiban terhadap keluarga. Keluarga merupakan sekelompok masyarakat terkecil yang terdiri dari orang tua dan anak. Orang tua terdiri ayah sebagai suami dan ibu sebagai istri. Kewajiban timbal balik dalam keluarga dilaksanakan oleh orang tua kepada anak dan anak kepada orang tua.  

Kehidupan orang tua dengan anak akan bahagia jika kedua belah pihak memahami hak dan kewajiban masing-masing. Anak akan mengerti hak dan kewajibannya jika diberitahu oleh orang tunya melalui pendidikan keluarga. Namun demikian anak akan lebih mengerti kewajibannya jika orang tua telah melaksanakan kewajibannya terhadap anak.

a. Kewajiban anak terhadap orang tua 

Kasih sayang orang tua sangatlah besar dan tidak dapat dibalas dengan materi apapun. Orang tua sangat berjasa bagi anak-anaknya dalam berbagai segi kehidupan karena telah melahirkan, merawat, melindungi, memberikan; kebutuhan, pendidikan, moral dan kasih sayang. Dengan melaksanakan kewajiban, setidaknya anak telah membalas budi meskipun orang tua tidak pernah mengharapkannya. Simaklah kisah “Lelaki tua dan tongkat” di bawah ini:

Ketika Buddha di Savatthi terdapat keluarga dengan empat anak laki-laki yang memiliki delapan ratus ribu keping uang. Ketika anak-anak sudah dewasa, mereka mengatur perkawinandan memberi masing-masing seratus ribu keping uang. Ketika ibu anak-anak itu meninggal dunia, anak-anak berpikir :
"Kalau ayah kawin lagi, maka harta keluarga akan dibagi juga kepada anak-anak dari isteri mudanya dan tidak ada lagi yang tersisa untuk kita. Mari saudara-saudaraku, kita membantu ayah dan menenangkan hatinya."
Sambil menunggu waktu yang tepat, mereka melayani ayah mereka dengan menyediakan makanan enak, pakaian yang terbaik, memijati tangan kaki serta mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga ayah mereka. Mereka lalu berkata :
"Ayah, kami berjanji akan merawat ayah selama hidupmu, berikanlah kekayaan ayah kepada kami." Kemudian masing-masing dibagi seratus ribu keping uang, sehingga laki-laki tua itu tidak mempunyai uang.
Beberapa hari, anak laki-laki paling tua merawatnya, sampai suatu hari, menantu perempuannya sambil berdiri di depan pintu gerbang berkata: "Ayah, apakah kamu memberikan anakmu yang paling tua ini lebih banyak seratus atau seribu keping uang daripada anakmu yang lain? Kamu hanya memberikan kepada setiap anak dua ratus ribu keping uang. Apakah kamu tidak tahu jalan ke rumah anak-anakmu yang lain?"
Orangtua yang mendengar kata-kata yang kasar dari menantunya itu menjadi marah, lalu pergi ke rumah anak kedua. Tetapi ia mengalami hal yang sama di rumah anak kedua, ketiga, dan anak yang bungsu. Ia tidak mempunyai tempat berteduh sehingga meminta makanan dari rumah ke rumah, ia terlunta-lunta. Lalu ia pergi menemui Buddha dan menceritakan semua yang dialaminya. Buddha memberinya nasehat agar mengulang syair tentang sikap anak-anaknya di hadapan kerumunan orang.
Ketika orangtua itu tiba di kerumunan orang-orang dan anak-anaknya juga ada di antara kerumunan itu, ia mengulang syair yang diajarkan Buddha. Orang-orang yang mendengar syair itu marah kepada keempat anak laki-laki tua itu. Mulai sejak itu berlakulah suatu hukum kemoralan, apabila seseorang yang telah dirawat oleh ayah dan ibunya dan ia tidak mau merawat kembali ayah dan ibunya yang sudah tua, maka orang itu harus mati. Anak-anak laki-laki tua itu dengan ketakutan segera berlutut di hadapan ayah mereka, memohon ampun kepadanya supaya mereka tidak dihukum mati, dengan berkata :
"Ayah ampunilah segala kesalahan kami. Selamatkanlah jiwa kami."
Orangtua yang mendengar anak-anaknya memohon ampun atas segala kesalahan mereka, menjadi lemah hatinya, ia lalu meminta kepada kerumunan orang-orang itu agar mengampuni anak-anaknya.
Keempat anak laki-laki itu amat ketakutan, kemudian menggendong dan mendudukkan ayahnya di kursi, lalu membawanya pulang. Mereka membersihkan tubuh ayahnya, memandikan dan memberinya bedak dan minyak wangi. Mereka lalu berkata kepada isteri mereka masing-masing :
"Mulai sekarang kamu harus merawat ayahku dengan baik, kalau kamu menolak, aku akan menghukummu."
Buddha memberikan khotbah bahwa dalam lima cara anak memperlakukan orang tuanya sebagai arah timur. Kewajiban tersebut merupakan hak yang harus dipenuhi oleh anaknya yaitu :
No.
Kewajiban anak untuk memenuhi hak orang tua
Contoh Hak orang tua sebagai pelaksanaan kewajiban anak
01.
02.
03.
04.
05.
Merawat dan menunjang kehidupan orang tua
Melakukan kewajiban sebagai anak yang berbakti
Menjaga kehormatan keluarga
Menjaga baik warisan
Memberikan sesajen kepada sanak keluarga yang meninggal
Orang tua berhak :
☺Contoh: dirawat, disayangi ketika sakit maupun lanjut usia, dan terpenuhi kebutuhan oelh anaknya,
☺Contoh: dipatuhi; dibantu menyelesaikan pekerjaan rumah; dan anak mendapat nilai baik.
☺Contoh: melihat anak berbuat baik, berprestasi dalam bidang tertentu, bersikap hormat, meneruskan tradisi keluarga serta memberikan keturunan
☺Contoh: warisan digunakan oleh anak untuk usaha atau disimpan untuk kebutuhan lain yang mendesak dan bermanfaat
☺Contoh: diberikan sesajen, didoakan agar terlahir bahagia; anak berdana atas nama keluarga yang meninggal (patidana); kebaktian, mengunjungi, membersihkan dan merawat makamnya

b. Kewajiban orang tua terhadap anak 

Seorang ibu muda membawa anaknya ke kolam pemandian umum untuk memandikan anaknya. Si ibu muda lalu turun ke kolam, anaknya berbaring sendirian di tepi kolam. Seorang wanita melewati jalan di tepi kolam, ketika ia melihat bayi yang sedang terbaring sendirian, ia tertarik dan berhenti, memperhatikan bayi mungil itu dengan seksama.

Kemudian wanita itu berkata : "Saudariku, saya senang melihat bayimu ini. Bolehkah saya memegangnya sebentar saja?" Si ibu muda tidak melarangnya. Kemudian wanita itu bertanya lagi : "Bolehkah saya menggendong bayi ini?" Ibu muda itu menjawab : "Boleh saja, silahkan." Wanita itu menggendong bayi itu sebentar, lalu membawanya pergi. Si ibu muda cepat-cepat keluar dari kolam dan mengejar wanita itu lalu menarik tangan wanita itu dan meminta bayinya, tetapi wanita itu tidak mau memberikannya, bahkan ia mengakui bahwa bayi itu anaknya. Sebaliknya, ia menuduh ibu muda itu mau mencuri anaknya.
Kedua wanita itu bertengkar, memperebutkan bayi mungil itu. Akhirnya mereka sampai di Gedung Pertemuan, tempat Pertapa Mahaushada yang adil dan bijaksana berada. Kedua wanita itu menceritakan apa yang telah terjadi. Sesudah mendengar cerita keduanya, pertapa itu bertanya : "Apakah kalian berdua akan dapat menerima keputusan saya?"
Mereka menjawab : "Ya, tuanku." Pertapa itu membuat garis lurus di tengah ruangan, lalu membaringkan si bayi di tengah-tengah garis. Ia meminta kedua wanita itu berdiri, si wanita dimintanya mengangkat dan memegang kaki si bayi, dan ibu muda itu diminta untuk memegang lengan bayinya. Pertapa meminta mereka untuk saling menarik lengan dan kaki bayi tersebut, sehingga sang bayi menangis kesakitan. Ibu muda segera berhenti menarik dan melepaskan bayinya, ia menangis tersedu-sedu.
Pertapa Mahaushada berbalik ke kerumunan orang yang ada di ruangan gedung itu dan bertanya : "Apakah kasih seorang ibu adalah kasih yang penuh dengan kelembutan terhadap anaknya ataukah ada kasih yang lain?"
Mereka menjawab : "Tentu saja, kasih seorang ibu, adalah kasih yang penuh dengan kelembutan terhadap anaknya." Pertapa itu bertanya lagi : "Kemudian, siapakah ibu yang sejati; wanita yang melepaskannya ataukah yang menariknya dengan kencang?"
Orang-orang itu menjawab :
"Ibu sejati adalah wanita yang melepaskan anaknya, karena ia tidak ingin menyakitinya."Segera saja ibu yang sejati itu mengambil anaknya dari wanita itu, lalu menciuminya dengan penuh kasih. Setelah berterima kasih kepada pertapa yang bijaksana dan kepada orang-orang yang ada di ruangan itu, kemudian ia pergi. Wanita yang mengambil bayi itu merasa malu dan menyadari perbuatannya yang buruk. Ia amat menyesal.
Dari kisah di atas, dapat diketahui bahwa kasih Ibu melebihi apapun, seorang Ibu tidak akan tega membiarkan anaknya menderita sedikitpun. Kasih Ibu, kasih orang tua adalah kasih sejati, kasih sepanjang masa, yang tidak dapat dibalas dengan benda apapun juga.
Kebaikan dan pengorbanan orang tua dilakukan agar anak-anak mereka mendapat kehidupan yang baik dan layak. Kewajiban orang tua terhadap anak, Buddha khotbahkan bahwa dalam lima cara orang tua menunjukkan kecintaan atas perlakuan anaknya sebagai arah timur:
No.
Kewajiban Orang tua untuk memenuhi hak anak
Contoh Hak anak sebagai pelaksanaan kewajiban orang tua
01.
02.
03.
04.
05.
Orang tua berkewajiban untuk:
Mencegah anak berbuat jahat
Menganjurkan anak berbuat baik
Melatih anak suatu keahlian
Mencarikan pasangan yang sesuai
Menyerahkan warisan
Anak berhak untuk :
Mendapat perhatian, kasih sayang dengan dinasehati ketika melakukan kesalahan
Contoh : dicegah agar tidak merokok, tidak melanggar peraturan dan ajaran agama.
Mendapat perhatian dan kasih sayang dengan diarahkan untuk selalu berbuat baik
Contoh : didukung untuk kegiatan sekolah dan keagamaan, diajari untuk berpakaian sopan
Disekolahkan, dan dilatih suatu keterampilan/pekerjaan yang bermanfaat untuk masa depan
Contoh : Anak disekolahkan, dilatih berdagang atau mengelola usaha, memberikan kursus
Mendapatkan petunjuk ketika mencari pasangan hidup
Contoh : Anak diberi nasehat agar mencari pasangan yang sama dalam keyakinan, moral dan kedermawanan
Terpenuhi kebutuhan sebagai anak dan mendapatkan warisan secara adil pada waktu yang tepat
Contoh : mendapatkan uang jajan, mendapatkan keinginan sesuai kemampuan, tempat tinggal yang layak, makanan yang layak mendapatkan harta warisan

Hak dan kewajiban dalam masyarakat

Masyarakat terdiri dari masyarakat sekolah, masyarakat kota/desa dan masyarakat lainnya. Di bawah ini akan dijelaskan kewajiban timbal balik masyarakat sekolah (guru dengan siswa), kewajiban timbal balik anggota keluarga dan masyarakat (sahabat/kenalan), kewajiban timbal balik majikan dengan pelayan dan kewajiban pertapa dengan umat.

a. Kewajiban timbal balik guru dengan siswa

Guru merupakan ujung tombak bagi pembangunan nasional terutama dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu Bangsa. Kewajiban guru dapat terlaksana jika pihak-pihak terkait seperti sekolah, murid dan pemerintah saling mendukung. Guru tidak hanya bertugas mengajar ilmu pengetahuan tetapi juga moral dan spiritual, yang dapat berhasil jika didukung pelaksanaan kewajiban oleh siswa sebagai objek pendidikan.
Buddha berkhotbah tentang kewajiban timbal balik antara guru dengan siswa, bahwa dalam lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru mereka sebagai arah selatan yaitu dengan:
No.
Kewajiban murid terhadap guru
Contoh hak guru sebagai pelaksanaan kewajiban murid

01.

02.

03.


04.

05.

Bangun dari tempat duduk untuk memberikan penghormatan
Melayani guru

Bertekad keras untuk belajar


Memberikan jasa-jasa kepadanya

Memperhatikan ketika pelajaran
Guru berhak untuk :
☺Contoh : mendapat penghormatan, dan sikap ramah dari murid
☺Contoh : mendapat pelayanan yang baik dalam mengajar
☺Contoh : tugas yang ia berikan kepada murid dikerjakan, pelajaran yang ia berikan dimengerti dan dipelajari murid
☺Contoh : mendapat bantuan dari murid ketika membutuhkan
☺Contoh : didengarkan ketika mengajar, dihargai dan diperhatikan ketika menjelaskan
Dengan lima cara tersebut, murid berbakti akan melaksanakan kewajiban terhadap gurunya. Demikian pula jika kewajiban itu dilaksanakan maka dalam lima cara, guru yang diperlakukan demikian akan melakukan kewajiban kepada murid-muridnya, yaitu:
No.
Kewajiban guru
Contoh hak murid sebagai pelaksanaan kewajiban guru
01.


02.

03.

04
.
05.
Melatih murid sesuai keahlian


Membuat murid mengusai pelajaran
Mengajar ilmu pengetahuan secara mendalam
Membicarakan kebaikan murid

Menjaga murid dari berbagai segi
Mendapatkan pendidikan dari guru sesuai keahlian/bidang studi
☺pelajaran matematika dari guru bidang studi matematika
Mendapatkan bimbingan sehingga menguasai pelajaran
☺ mendapat bimbingan dalam belajar
Mendapatkan pengetahuan secara mendalam (ilmu bersifat luas tidak sebatas pada teori buku)
Terjaga nama baiknya
☺kesalahan murid tidak diceritakan pada orang lain
Mendapat perlindungan
☺dilindungi dari kejahatan, obat-obatan terlarang dan bahaya

b. Kewajiban timbal balik terhadap masyarakat

Dalam lima cara anggota keluarga memperlakukan sahabat dan kawannya (masyarakat) sebagai arah utara yaitu dengan:
No.
Kewajiban anggota keluarga sebagai masyarakat
Contoh hak masyarakat sebagai pelaksanaan kewajiban anggota keluarga
01.

02.

03.


04.

05.
Bermurah hati
Contoh: menolong
Ramah tamah
Contoh: menyapa, memberi salam
Berbuat baik
Contoh: mengikuti kegiatan di masyarakat, menghargai perbedaan, bergotong royong
Menjamu
Contoh : berbagi, mengundang makan
Menepati janji
Contoh : menghadiri pertemuan, ikut siskamling/rapat, menepati janji dengan tetangga
☺Contoh : ditolong
☺Contoh : dihormati, dihargai
☺Contoh : diperlakukan dengan baik, dapat bekerja sama
☺Contoh : diundang dalam acara tertentu
☺Contoh : tidak dibohongi ketika memiliki janji
Diperlakukan dalam lima cara ini, sebagai arah utara, sahabat dan kawan-kawan akan mencintainya dengan cara:
No.
Kewajiban masyarakat terhadap anggota keluarga
Contoh hak anggota keluarga sebagai pelaksanaan kewajiban masyarakat
01.

02.

03.

04.
05.
Melindungi ketika tidak siaga

Menjaga harta benda

Melindungi ketika dalam bahaya

Tidak meninggalkan ketika kesusahan

Menghormati
Mendapatkan keamanan diri dan kenyamanan
☺Contoh : lingkungan dijaga oleh petugas keamanan
Mendapatkan perlindungan harta kekayaan
☺Contoh : harta terlindungi ketika ditinggal pergi
Mendapat pertolongan dan bantuan ketika dalam bahaya
☺Contoh : ketika ada penjahat segera dibantu
Mendapatkan simpati
☺Contoh : ketika keluarga meninggal, atau tertimpa bencana mendapatkan simpati/dihibur
Dihormati dan dihargai sebagai warga masyarakat
☺Contoh : bebas beragama, mengemukanan pendapat, mendapatkan keadilan

Hak dan kewajiban sebagai warga Negara

Negara akan sejahtara jika seluruh komponen bangsa melaksanakan hak dan kewajiban mereka. Hak dan kewajiban sebagai warga Negara Indonesia, dijelaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 26, 27, 28 dan 30 yaitu :
No.
Hak warga Negara
Kewajiban warga Negara
01.
02.

03.

04.

05.
06.

07.
Mendapatkan perlindungan hukum
Berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
Memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan di dalam pemerintahan
Bebas memilih, memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing yang dipercayai
Memperoleh pendidikan dan pengajaran
Mempertahankan wilayah negara kesatuan Indonesia dari serangan musuh
Memiliki hak yang sama dalam kemerdekaan berserikat, berkumpul mengeluarkan pendapat secara lisan dan tulisan sesuai undang-undang yang berlaku
ØBerperan serta dalam membela dan mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia dari serangan musuh
ØMembayar pajak dan retribusi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah
ØMentaati serta menjunjung tinggi dasar Negara, hukum dan pemerintahan tanpa terkecuali serta dijalankan dengan sebaik-baiknya
ØBerkewajiban taat, tunduk dan patuh terhadap segala hukum yang berlaku di wilayah negara Indonesia
ØTurut serta dalam pembangunan bangsa agar berkembang dan maju ke arah yang lebih baik
Sebelum parinibbana Buddha membabarkan Maha Parinibbana Sutta, dalam khotbahnya Buddha menjelaskan kepada Ananda dan Brahmana Vassakāra utusan Raja Ajatasattu yang akan menyerang suku Vajjis tentang tujuh kesejahteraan suku Vajjis. Khotbah ini dijadikan pedoman umat Buddha sebagai tujuh syarat kesejahteraan suatu Negara yaitu :
a. Sering mengadakan pertemuan;
b. Tidak pernah membuat undang-undang baru atau menghapus undang-undang yang ada tetapi mentaati undang-undang dasar yang sudah lama;
c. Memperhatikan, menghormat dan menghargai orang tua dan menganggap berharga untuk mendengar kata-kata mereka;
d. Menjauhkan diri dari penculikan wanita-wanita serta gadis-gadis dari keluarga baik-baik dan juga tidak menahannya;
e. Memperhatikan, menghormat, menghargai, dan menyokong tempat-tempat suci;
f. Tidak melalaikan kewajiban memberi sesajen yang telah dilakukan sejak dulu;
g. Menjaga dan melindungi orang-orang suci;
Tujuh syarat ini jika dilaksanakan oleh Negara atau pemerintah dan warga negaranya, maka negara tersebut akan sejahtera. Jika syarat-syarat tersebut dipenuhi, maka negara akan sejahtera. Dalam Sigalovada Sutta, Buddha membabarkan tentang kewajiban timbal balik antara anggota keluarga terhadap sahabat/kerabat atau kenalannya. Kewajiban tersebut dapat diterapkan sebagai kewajiban timbal balik masyarakat dan warga negara yaitu :
No.
Kewajiban Negara
Contoh hak warga negara sebagai pelaksanaan kewajiban Negara

01.

02.

03.

04.


05.

Melindungi ketika tidak siaga
Menjaga harta benda

Melindungi ketika dalam bahaya
Tidak meninggalkan ketika kesusahan

Menghormati
Warga Negara berhak untuk :
Mendapatkan keamanan diri dan kenyamanan
☺Contoh : Negara menjaga keamanan Negeri
Mendapatkan perlindungan harta kekayaan
☺Contoh : Negara melindungi warga negara dari pemerasan
Mendapatkan pertolongan dan bantuan ketika dalam bahaya
☺Contoh : Negara memberi perlindungan hukum terhadap warga negara
Mendapatkan simpati
☺Contoh: Negara memperdulikan warga negara yang tertimpa musibah, tidak memiliki penghidupan yang layak
Dihormati dan dihargai sebagai warga negara
☺Contoh : Negara memberi kesempatan warga negara untuk menjalankan ibadah, beragama, menggunakan fasilitas umum, mengemukanan pendapat, mendapatkan keadilan, hidup, berkeluarga, mengembangkan diri, sekolah, berkreasi, dsb.
No.
Kewajiban Warga Negara
Contoh Hak Negara sebagai pelaksanaan kewajiban warga negara
01.


02.


03.



04.


05.
Bermurah hati
☺Contoh : Rela berkorban demi kedaulatan bangsa dan negara
Ramah tamah
☺Contoh : Terbuka terhadap pihak terkait, menjaga kerukunan
Berbuat baik
☺Contoh : Berperan serta dalam kegiatan, menghargai perbedaan, bergotong royong, mengikuti pemilu
Menjamu
☺Contoh : Memberikan sedekah kepada fakir miskin, membantu kemajuan ekonomi bangsa
Menepati janji
☺Contoh : Melaksanakan dan menaati peraturan (membayar pajak, membuat KTP, mengikuti PEMILU)
Hak Negara yaitu:
☺Contoh : Dijaga dan dibela kedaulatannya
☺Contoh : Mengajak warga negara bekerja sama, terbuka dan menghargai bangsanya
☺Contoh : Dibantu warga negara dengan mengikuti pemilu, berperan serta dalam kegiatan maupun pendidikan, dsb
☺Contoh : Dibantu dalam hal kemajuan ekonomi bangsa, ekomoni rakyat dan kemajuan bangsa lain
☺Contoh : Dilaksanakan dan ditaati peraturan yang ada ( warga negara membayar pajak, membuat KTP, dsb)
Kewajiban warga Negara sebagai pelajar, sebagai tunas muda bagi bangsa Indonesia harus dilaksanakan dengan menuntut ilmu dan menjadi pelajar yang baik. Dengan demikian, hak warga negarapun terpenuhi.

Kewajiban sebagai umat Buddha

Umat Buddha menyatakan diri berlindung kepada Tiratana dan bertekad melaksanakan lima latihan sila. Karena itu umat Buddha memiliki kewajiban sesuai pernyataannya tersebut dengan cara :
a. Berlindung secara aktif terhadap Tiratana;
b. Memperkuat kemoralan (sila), meditasi (samadhi) dan kebijaksanaan (pañña);